Rabu, 12 Februari 2020

Cara menjaga kesehatan agar tidak mudah saki

1. Makan sayuran hijau

Sayuran hijau dan berdaun kaya akan vitamin yang membantu Anda menjaga diet seimbang dan mendukung sistem kekebalan tubuh yang sehat.
Menurut sebuah peercobaan yang dilakukan pada tikus, makan sayuran criciferous, seperti brokoli, kembang kol, dan kol, dapat membantu mengirimkan sinyal kimia ke tubuh yang meningkatkan protein pada permukaan sel yang diperlukan untuk membuat kerja sistem kekebalan tubuh lebih optimal.
Dalam penelitian ini, tikus sehat yang tidak makan sayuran hijau mengalami penurunan potein permukaan sel sebesar 70-80 persen.

2. Konsumsi vitamin D

Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan gejala seperti pertumbuhan tulang yang buruk, masalah jantung, dan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Makanan yang mengandung sumber vitamin D terbaik antara lain kuning telur, jamur, ikan salmon, ikan tuna, dan hati sapi. Anda juga bisa membeli suplemen vitamin D dan pilih yang mengandung D3 (cholecalciferol), karena ini baik dalam meningkatkan kadar vitamin D dalam darah Anda.
Namun sebelum mengnsumsi suplemen, sebaiknya konsultasikan hal ini pada dokter.

3. Olahraga rutin

Tetap aktif dengan melakukan olahraga secara rutin. Anda bisa mulai dengan olahraga yang ringan seperti berjalan kaki. Olahraga dengan teratur bisa membuat Anda bugar dan langsing.
Selain itu, sebuah penelitian membuktikan bahwa olahraga teratur dapat mencegah peradangan dan penyakit kronis, mengurangi stres, serta mempercepat peredaran sel darah putih dalam melawan penyakit.

4. Minum teh hijau

Teh hijau telah dikaitkan dengan kesehatan yang baik. Manfaat kesehatan teh hijau mungkin karena tingginya tingkat antioksidan, yang disebut flavonoid. Sehingga dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
Maka itu, karena mudah untuk dilakukan cara menjaga kesehatan tubuh yang satu ini sudah banyak dilakukan.

5. Tidur yang cukup

Tidur yang cukup merupakan salah satu kunci dari kekebalan tubuh yang kuat. Sebuah penelitian menunjukan bahwa orang yang tidur minimal delapan jam setiap malam selama dua minggu menunjukkan bahwa tubuh lebih kebal dari serangan virus dan kuman bakteri. Sementara, orang yang kurang dari 6 jam setiap malam akan 4 kali lebih mudah mengalami flu karena virus dibandingkan orang yang tidur 7 jam atau lebih.
Hal ini disebabkan oleh sitokin yang dilepaskan tubuh selama tidur yang lama. Sitokin adalah sejenis protein yang membantu tubuh melawan infeksi dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

6. Kelola stres Anda

Stres sudah terbukti dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga membuat orang menjadi mudah terserang penyakit.
Kortisol membantu melawan peradangan dan penyakit. Pelepasan hormon secara konstan pada orang yang mengalami stres kronis ternyata dapat mengurangi kemampuan hormon tersebut.
Hal ini dapat mengakibatkan tubuh mengalami peradangan dan rentan terhadap penyakit. Jadi salah satu cara menjaga kesehatan tubuh yang tepat adalah dengan mengendalikan stres. Anda bisa coba lakukan latihan yoga atau meditasi untuk mengendalikan atau menghilangkan stres.

7. Bersosialisasi dengan orang disekitar

Rasa kesepian sering dikaitkan sebagai pemicu dari beberapa penyakit, terutama pada orang yang baru sembuh dari operasi jantung.
Penelitian yang diterbitkan dalam American Psychological Association menunjukkan bahwa isolasi sosial dapat meningkatkan stres, yang memperlambat respon kekebalan tubuh dan kemampuan untuk menyembuhkan dengan cepat.

8. Menjaga kebersihan

Cara menjaga kesehatan lainnya adalah dengan menjaga kebersihan diri maupun lingkukan sekitar. Dengan begitu, Anda terhindar dari serangan berbagai penyakit. Berikut adalah beberapa cara menjaga kebersihan yang baik:
  • Mandi setiap hari
  • Cuci tangan Anda sebelum makan atau menyiapkan makanan, dan setelah makan.
  • Cuci tangan Anda sebelum memasukkan lensa kontak atau melakukan aktivitas lain yang membuat Anda bersentuhan dengan mata atau mulut.
  • Cuci tangan Anda selama 20 detik dan gosok di bawah kuku jari Anda.
  • Tutup mulut dan hidung Anda dengan tisu saat batuk atau bersin.

9. Coba konsumsi probiotik

Peneltian menunjukan bahwa orang yang mengalami stres yang mendapat probiotik, mengalami sakit dalam jangka waktu yang lebih sedikit.

10. Hindari alkohol

Penelitian menunjukan bahwa minum alkohol dapat merusak sel dendritik, yaitu komponen penting dari sistem kekebalan tubuh. Seiring berjalannya waktu, sering minum alkohol dapat meningkatkan seseorang terhadap infeksi bakteri dan virus.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam di Journal Clinical and Vaccine Immunology membandingkan sel dendritik dan respon sistem kekebalan tubuh pada tikus yang diberi alkohol dengan yang tidak diberi alkohol.
Alkohol menekan kekebalan pada tikus sampai tingkat yang berbeda-beda. Dokter mengatakan bahwa penelitian ini membantu menjelaskan mengapa vaksin kurang efektif untuk orang dengan kecanduan alkohol.

Seputar Menstruasi


Menstruasi adalah proses keluarnya darah dari vagina yang terjadi diakibatkan siklus bulanan alami pada tubuh wanita. Siklus ini merupakan proses organ reproduksi wanita untuk bersiap jika terjadi kehamilan. Persiapan ini ditandai dengan penebalan dinding rahim (endometrium) yang berisi pembuluh darah. Jika tidak terjadi kehamilan, endometrium akan mengalami peluruhan dan keluar bersama darah melalui vagina.
Siklus ini berjalan sekitar 4 minggu, dimulai sejak hari pertama menstruasi, hingga hari pertama menstruasi berikutnya tiba. Siklus menstruasi pada seorang wanita diatur oleh berbagai hormon, baik yang dihasilkan oleh organ reproduksi maupun kelenjar lain. Beberapa hormon yang terlibat adalah GnRH (gonadotropin relasing hormone), FSH (folicle stimulating hormone), LH (luteinizing hormone), estrogen, dan progesteron.
Berdasarkan perubahan kondisi rahim dan konsentrasi hormon, siklus menstruasi dibagi menjadi beberapa fase, yaitu:
  • Fase menstruasi. Fase menstruasi merupakan fase pertama di dalam siklus menstruasi. Fase ini ditandai dengan terjadinya peluruhan dinding rahim yang berisi pembuluh darah dan cairan lendir. Fase menstruasi terjadi ketika sel telur tidak dibuahi sehingga tidak terjadi kehamilan. Kondisi ini menyebabkan dinding uterus yang mengalami penebalan pada fase-fase sebelumnya untuk mempersiapkan terjadinya kehamilan, tidak lagi diperlukan oleh tubuh.
  • Fase folikular. Fase ini terjadi ketika kelenjar hipotalamus di otak mengeluarkan GnRH untuk merangsang kelenjar pituitari atau hipofisis sehingga mengeluarkan FSH. FSH akan merangsang indung telur atau ovarium untuk membentuk folikel yang berisi sel telur yang belum matang. Folikel akan terus berkembang selama sekitar 16 hari bersamaan dengan perkembangan sel telur. Folikel yang sedang mengalami pematangan akan mengeluarkan hormon estrogen yang mulai merangsang penebalan dinding rahim.
  • Fase ovulasi. Fase ovulasi terjadi ketika ovarium melepaskan sel telur yang sudah matang ke saluran indung Sel telur akan keluar dari ovarium pada saat kadar LH di dalam tubuh mencapai puncaknya. Sel telur yang keluar dari ovarium akan berjalan menuju rahim untuk siap dibuahi oleh sperma. Jika tidak dibuahi, sel telur akan melebur 24 jam setelah terjadinya ovulasi. Pada wanita yang memiliki siklus menstruasi selama 28 hari, umumnya ovulasi terjadi pada hari ke 14.
  • Fase luteal. Fase ini terjadi ketika folikel yang sudah mengeluarkan sel telur yang sudah matang berubah menjadi jaringan yang dinamakan korpus luteum. Korpus luteum akan mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron untuk menjaga agar dinding uterus atau rahim tetap tebal, sehinga uterus tetap siap menampung sel telur jika sudah dibuahi. Jika terjadi kehamilan, tubuh wanita akan mengeluarkan hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) untuk menjaga agar korpus luteum tetap ada di dalam ovarium sehingga dinding uterus tidak meluruh. Akan tetapi jika tidak terjadi kehamilan, korpus luteum akan meluruh sehingga kadar hormon estrogen dan progesteron dalam darah juga akan menurun. Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron akan menyebabkan dinding uterus mengalami peluruhan dan terjadi menstruasi. Fase luteal umumnya terjadi sekitar 11-17 hari dengan rata-rata lamanya adalah 14 hari.
Normalnya menstruasi terjadi sekitar 3-7 hari pada kebanyakan wanita. Meski demikian, tidak semua wanita mengalami siklus yang sama, bahkan di antara wanita yang berusia hampir sama. Siklus mentruasi terkadang bisa datang lebih cepat atau lebih lambat, dengan perbedaan yang berkisar antara 21 hingga 35 hari.
Usia Mentruasi Pertama
Siklus menstruasi pertama terjadi pada gadis remaja saat mereka memasuki masa pubertas, biasanya diawali pada usia 12 tahun atau sekitar 2-3 tahun setelah payudara mulai tumbuh. Usia pertama menstruasi yang dialami oleh seorang anak juga umumnya terjadi pada usia yang sama dengan ibu atau kakak perempuan mereka.
Menstruasi pertama bisa datang lebih cepat atau lambat. Ada yang mengalaminya sejak sekitar usia 8 tahun, dan ada yang baru mengalaminya di atas usia 12 tahun. Meski demikian, sebagian besar gadis remaja sudah mengalami menstruasi secara rutin pada usia 16 hingga 18 tahun. Menstruasi akan terus berlangsung sampai menopause tiba. Menopause dapat terjadi pada wanita berusia 40 tahun hingga pertengahan usia 50 tahun.


Gejala-gejala pada Siklus Menstruasi
Sindrom pramenstruasi (PMS)
Dalam siklus menstruasi, perubahan kadar hormon dalam tubuh wanita akan terjadi. Berubahnya jumlah hormon bisa memengaruhi fisik dan emosi, yang dapat muncul beberapa hari sebelum menstruasi. Gejala ini disebut sindrom pramenstruasi atau premenstrual syndrome (PMS).
Sejumlah perubahan fisik dan emosi yang biasanya muncul sebelum menstruasi adalah:
  • Lelah
  • Sakit kepala
  • Perut kembung
  • Payudara menjadi sensitif
  • Kenaikan berat badan
  • Nyeri pada otot dan sendi
  • Diare atau konstipasi
  • Muncul jerawat.
  • Keluarnya cairan dari vagina atau keputihan normal sebelum menstruasi.
Sementara, perubahan emosi yang bisa terjadi pada saat wanita mengalami PMS adalah:
  • Uring-uringan
  • Suasana hati yang tidak stabil
  • Sulit konsentrasi
  • Mudah menangis
  • Sulit tidur
  • Perubahan nafsu makan
  • Kecemasan berlebihan
  • Turunnya rasa percaya diri
  • Gairah seks yang menurun.
Pada beberapa wanita, gejala PMS dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, sehingga memaksa wanita yang mengalami PMS berat untuk beristirahat. Akan tetapi terlepas dari seberapa parah gejala PMS yang diderita, gejala-gejala tersebut akan mereda setelah sekitar 4 hari.

Saat menstruasi, wanita akan mengalami perdarahan dari vagina selama 2 hari sampai satu minggu, dengan volume darah rata-rata sekitar 30-70 mililiter. Tetapi ada sebagian wanita yang mengeluarkan darah yang lebih banyak. Volume perdarahan terbanyak selama menstruasi terjadi pada hari pertama dan kedua.
Selama menstruasi, sakit atau kram perut juga dapat terjadi. Apabila Anda mengalami sakit atau kram perut yang terasa mengganggu aktivitas sehari-hari, sejumlah cara berikut bisa bermanfaat untuk menguranginya:
  • Menghangatkan perut, misalnya dengan kompres air hangat
  • Olahraga ringan, seperti berjalan kaki atau bersepeda
  • Memijat perut bagian bawah
  • Meminum obat pereda rasa sakit, misalnya paracetamol
  • Berhenti merokok
  • Melakukan teknik relaksasi, contohnya yoga dan meditasi
  • Menghindari minuman yang mengandung kafein dan alkohol.
Kelainan pada Siklus Menstruasi
Durasi serta volume perdarahan pada siklus menstruasi yang dialami masing-masing wanita berbeda-beda. Tiap wanita dianjurkan untuk memperhatikan atau mencatat siklus menstruasinya agar dapat segera menyadari jika muncul kejanggalan tertentu. Siklus menstruasi yang tidak biasa atau volume darah yang berlebihan terkadang dapat menandakan adanya masalah kesehatan.
Gejala kelainan siklus menstruasi berbeda-beda untuk setiap kelainan. Namun secara umum, gejala yang perlu diperhatikan sebagai tanda kelainan siklus menstruasi adalah:
  • Terjadi lebih dari 7 hari
  • Mengalami perdarahan deras yang menyebabkan perlunya mengganti pembalut tiap 1-2 jam
  • Menstruasi terjadi lebih sering dalam kurun waktu 21 hari
  • Terjadinya menstruasi kurang dari yang seharusnya dalam kurun waktu 45 hari
  • Mengalami perdarahan berat yang diikuti munculnya lebam atau perdarahan. Hal ini harus menjadi perhatian terutama pada wanita yang memiliki keluarga dengan riwayat kelainan perdarahan.
Kelainan menstruasi pada wanita di usia awal menstruasi dapat diamati dari tanda-tanda seperti:
  • Menstruasi belum terjadi pada kurun waktu 3 tahun setelah berkembangnya payudara
  • Menstruasi belum terjadi pada usia 15 tahun
  • Menstruasi belum terjadi pada usia 14 tahun diikuti dengan tanda-tanda hirsutisme.
Permasalahan dalam menstruasi yang umum terjadi dibagi dalam empat kategori, yaitu:
Menorrhagia
Menorrhagia adalah volume darah yang berlebihan saat menstruasi. Beberapa gejala dalam kondisi ini adalah:
  • Volume darah yang terlalu banyak sehingga harus mengganti pembalut tiap jam dan ini berlangsung selama beberapa jam
  • Harus menggunakan dua pembalut untuk menampung perdarahan
  • Harus bangun untuk mengganti pembalut pada saat tidur
  • Mengalami gejala anemia, misalnya lemas atau sesak napas
  • Durasi menstruasi yang berlangsung lebih dari 7 hari atau menstruasi lama
  • Mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah berukuran besar selama lebih dari satu hari
  • Terpaksa membatasi rutinitas karena volume darah yang hilang berlebihan saat menstruasi.
Kelainan ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari ketidakseimbangan hormon hingga miom yang tumbuh pada rahim. Oleh karena itu, sebaiknya periksakan diri ke dokter apabila Anda mengalami perdarahan yang berlebihan agar dapat ditangani secara seksama.
Metrorrhagia
Metrorrhagia merupakan perdarahan dari vagina yang terjadi diantara dua periode menstruasi. Penyebab terjadinya metrorrhagia cukup beragam, dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan hromon, infeksi, miom, hingga kanker. Jika muncul metrorrhagia, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menjalani pemeriksaan sehingga dapat ditangani penyebabnya. Pengobatan metrorrhagia bergantung kepada penyebab tejadinya metrorrhagia.
Oligomenorrhea
Haid biasanya datang tiap 21 hingga 35 hari. Tetapi, ada juga wanita yang mengalami menstruasi secara tidak teratur, yaitu bila haid datang setelah 90 hari. Kondisi ini disebut sebagai oligomenorrhoea.
Terdapat beberapa penyebabnya, seperti penggunaan kontrasepsi, obat penunda haid, olahraga berat, gangguan pola makan, serta diabetes dan penyakit tiroid, sehingga penanganannya pun berbeda-beda.
Amenorrhea
Amenorrhea adalah istilah medis di mana menstruasi terhenti sama sekali. Kondisi ini bisa terjadi dengan alami atau diakibatkan oleh penyakit dan konsumsi obat tertentu.
Sejumlah faktor alami yang dapat menyebabkan masalah ini, di antaranya adalah:
  • Kehamilan
  • Menyusui
  • Menopause.
Penyakit yang menyerang indung telur (ovarium), seperti polycystic ovarian syndrome (PCOS), bekas luka pada dinding rahim, bentuk vagina abnormal, organ reproduksi yang tidak berkembang sempurna, gangguan hormon tiroid, dan adanya tumor pada kelenjar pituitari atau hipofisis di otak juga dapat mengakibatkan amenorrhea.
Konsumsi obat maupun pil KB, stres, olahraga yang berlebihan, dan berat badan yang terlalu rendah juga bisa menyebabkan amenorrhea. Jika penyebabnya sudah diatasi, menstruasi akan kembali normal.
Dysmenorrhea
Dysmenorrhea atau nyeri haid adalah hal biasa yang pernah dirasakan tiap wanita. Dysmenorrhea yang biasanya terjadi sebelum dan pada saat menstruasi ini umumnya berupa nyeri atau kram di perut bagian bawah yang terus berlangsung, dan terkadang menyebar hingga ke punggung bawah serta paha. Rasa nyeri tersebut juga bisa disertai sakit kepala, mual, dan diare.
Obat pereda sakit dapat digunakan untuk mengatasi dysmenorrhoea. Tetapi hubungilah dokter jika Anda mengalami nyeri menstruasi yang tidak tertahankan atau bertambah parah untuk memastikan bahwa kondisi ini bukan disebabkan oleh penyakit tertentu, terutama jika Anda berusia di atas 25 tahun.


Selasa, 11 Februari 2020

Kenali Daftar Makanan Yang Mengandung Zat Besi


Zat besi sangat dibutuhkan untuk kesehatan tapi tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Mengonsumsi makanan mengandung zat besi secara rutin adalah satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ini. 
Kekurangan zat besi adalah jenis kekurangan nutrisi yang paling sering terjadi. Kurangnya zat besi menyebabkan tubuh tidak dapat memproduksi cukup hemoglobin yang berperan membawa oksigen ke jaringan tubuh. Gejala yang sering muncul pada kondisi kekurangan zat besi adalah mudah lelah, penurunan prestasi di sekolah maupun kantor, penurunan sistem kekebalan tubuh, hingga gangguan tumbuh kembang pada Anak. Ketahui juga alasan lain untuk mengonsumsi zat besi.
Kebutuhan harian zat besi berbeda-beda berdasarkan usia dan jenis kelamin. Pada bayi berusia 0-1 tahun, kebutuhan zat besi untuk bayi adalah 7-8 mg dan terus meningkat sebanyak 1 mg setiap 3 tahun hingga berumur 9 tahun. Setelah berumur 9 tahun, kebutuhan zat besi pada pria dan wanita akan berbeda. Kebutuhan tertinggi adalah pada usia 13-15 tahun, yaitu 19mg pada pria dan di usia 13-49 tahun pada wanita, yaitu sebanyak 26 mg.
Secara umum terdapat dua jenis makanan kaya zat besi:
  • Heme: zat besi dalam makanan hewani seperti ikan, unggas, daging merah.
  • Nonheme: zat besi dari tanaman.
Agar memudahkan Anda mencukupi kebutuhan zat besi, berikut adalah panduan beberapa makanan yang kaya akan zat besi.
Daging merah
Tiap 100 gram daging merah tanpa lemak seperti daging sapi mengandung sekitar 2 miligram zat besi.
Tiram
Pecinta boga bahari (seafood) bisa mendapatkan manfaat lebih dari makanan seperti kerang, tiram, dan cumi. 100 gram kerang dapat mengandung setidaknya 5 miligram zat besi. Selain kaya zat besi, boga bahari ini juga penuh nutrisi seperti vitamin B12 dan seng.
Berbagai jenis ikan
Penggemar ikan patut senang karena kebutuhan zat besi mereka dapat tercukupi dari ikan-ikan seperti tuna dan salmon.
Hati
Hati dan jeroan hewan adalah sumber zat besi heme yang terbaik dengan tambahan protein, vitamin, dan mineral. Dalam 100 gram hati sapi, terdapat sekitar 5 mg zat besi. Meski demikian, kandungan  kolesterolnya yang tinggi membuat hati perlu dikonsumsi dengan bijak. Tingginya vitamin A dalam hati juga patut diwaspadai oleh ibu hamil karena mengandung risiko kelainan pada janin.
Sereal yang diperkaya zat besi
Sereal yang diperkaya zat besi adalah pilihan baik untuk sarapan. Periksa label nutrisi untuk mengetahui kandungan zat besi dalam tiap takaran saji produk.
Kacang kedelai
Selain mengandung 2 mg zat besi, 100 gram kacang kedelai menyimpan mineral penting seperti tembaga yang menjaga sistem kekebalan tubuh dan pembuluh darah tetap sehat. Mangan juga berperan menjaga proses kimia dalam tubuh agar tetap normal. Bahan yang kaya protein dan serat ini dapat dikonsumsi dengan berbagai cara seperti digoreng ataupun sebagai paduan pasta.
Berbagai jenis kacang-kacangan
Tiap 100 gram kacang-kacangan mengandung setidaknya 4 mg zat besi. Jika dimasak, kacang-kacangan dapat dipadukan dengan sayur kaya vitamin C seperti brokoli, kol, atau kale yang mempercepat penyerapan zat besi.
Bayam
100 gram sayuran berdaun gelap ini mengandung lebih dari 2 mg zat besi, juga vitamin A dan E, protein, kalsium, dan serat. Jika tidak suka menyantapnya langsung, sayuran ini dapat dipadukan ke dalam berbagai sajian dan kue basah.
Biji wijen
100 gram biji wijen dapat mengandung sekitar 14 mg zat besi, juga kaya vitamin E, seng, dan fosfor. Untuk mendapatkan manfaatnya dalam sajian, biji ini dapat ditaburkan pada salad, sup, ataupun roti.
Tahu
100 mg tahu dapat mengandung 2 mg zat besi nonheme.
Kentang
Tiap 100 mg kentang panggang mengandung sekitar 3 mg zat besi nonheme.
Sementara pada bayi, kebutuhan zat besi dapat dipenuhi dari ASI atau susu formula yang diperkaya zat besi.
Bersamaan dengan konsumsi makanan kaya zat besi, pilih makanan atau minuman yang mengandung vitamin C, seperti jus jeruk, untuk meningkatkan penyerapan zat besi. Vitamin C ini juga terkandung dalam buah dan sayur seperti: kiwi, melon, stroberi, brokoli, anggur, tomat. Di sisi lain, konsumsi makanan tertentu justru dapat menghambat penyerapan kalsium. Oleh sebab itu, batasi konsumsi zat besi bersama teh atau kopi ataupun makanan/minuman kaya kalsium, obat antacid, ataupun sereal gandum utuh.
Komunikasikan lebih lanjut dengan dokter mengenai dosis dan sumber zat besi yang baik untuk Anda. Konsumsi suplemen zat besi untuk mencukupi kebutuhan tubuh juga  disarankan untuk dikonsultasikan lebih dulu ke dokter. Meski kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, tapi zat besi yang berlebihan juga tidak baik bagi Anda.

Baca Juga

akuntanvers.blogspot.com

Berbagai Cara Meningkatkan Imunitas Tubuh Agar Tidak Mudah Sakit


Sistem imunitas atau daya tahan tubuh memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan. Imunitas tubuh harus dijaga dengan baik agar tidak mudah terserang penyakit.
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan imunitas tubuh Termasuk menerapkan pola hidup sehat, menghindari stres, hingga mengonsumsi suplemen agar sistem kekebalan tubuh tetap prima.
Menerapkan Pola Hidup Sehat
Agar imunitas tubuh dapat bekerja dengan optimal sehingga tubuh tidak mudah terserang penyakit, penting untuk menerapkan pola hidup yang sehat Berikut beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh:
  • Perbanyak makan sayur dan buah
    Untuk menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh, Anda disarankan untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Penelitian menunjukkan, orang yang banyak mengonsumsi kedua jenis makanan tersebut, cenderung tidak mudah sakit. Hal ini karena vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayur dan buah mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus dan bakteri penyebab penyakit.
  • Cukupi istirahat
  • kurang tidur dapat menurunkan imunitas tubuh. Penting untuk mencukupi kebutuhan tidur sesuai dengan usia Anda. Umumnya, orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar 7-8 jam, dan remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 9-10 jam.
  • Hindari stres
    Stres yang tidak terkendali bisa meningkatkan produksi hormon kortisol. Dalam jangka panjang, peningkatan hormon kortisol dapat mengakibatkan penurunan fungsi kekebalan tubuh. Anda perlu mengelola stress dengan baik untuk menghindari penurunan fungsi kekebalan tubuh.
  • Rutin berolahraga
    Disarankan untuk rutin berolahraga selama 30 menit setiap hari, untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi. Salah satu olahraga yang murah dan mudah untuk dilakukan adalah berjalan kaki.
  • Hindari rokok dan alkoholpaparan asap rokok dan alkohol secara berlebih dapat merusak sistem kekebalan tubuh. Perokok memiliki risiko tinggi untuk mengalami infeksi paru, seperti bronkitis dan pneumonia. Sementara untuk perokok yang juga pecandu alkohol, risiko untuk terkena infeksi paru akan semakin besar.
Suplemen untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh
Selain menerapkan pola hidup sehat, sebagian orang memilih untuk mengonsumsi suplemen untuk meningkatkan imunitas tubuh. Konsumsi suplemen mungkin dapat menjadi pilihan untuk melengkapi pola makan yang kurang bernutrisi.
Jika Anda mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen peningkat imunitas tubuh, perhatikan kandungan yang terdapat pada suplemen tersebut. Beberapa kandungan berikut ini dapat bermanfaat meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh:
  • Echinacea
    Suplemen yang mengandung echinacea cukup direkomendasikan. Selain mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda, echinacea dipercaya bermanfaat sebagai antivirus, antiradang, dan antioksidan. Oleh karena itu, bahan ini diyakini dapat membantu tubuh melawan virus penyebab flu, membantu pertumbuhan sel, serta mengontrol gula darah dan tekanan darah.
  • Morinda citrifolia atau buah mengkudu
    Buah yang dikenal dengan sebutan mengkudu ini mengandung berbagai macam zat yang dibutuhkan tubuh. Misalnya kalium yang terkandung pada mengkudu, mampu meningkatkan stamina dan kekebalan tubuh, serta memperbaiki kerusakan sel. Namun, Anda yang memiliki riwayat penyakit ginjal, jantung, atau penyakit liver, disarankan untuk menghindari konsumsi suplemen yang mengandung mengkudu. Sebaiknya konsultasi ke dokter sebelum mengonsumsi suplemen ini.
  • Phylantus atau daun meniran
    Meski memerlukan penelitian lebih lanjut, daun meniran dianggap mengandung berbagai macam senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan. Misalnya kandungan antioksidan yang terdapat dalam daun meniran, berfungsi melawan radikal bebas dan memperkuat sistem imun tubuh.
  • Mengandung vitamin B6, C, dan E
    Suplemen yang mengandung vitamin B6, vitamin C, dan vitamin E cukup direkomendasikan. Ketiga vitamin ini dapat memberi manfaat bagi tubuh untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh lebih optimal.
Menerapkan pola hidup sehat merupakan langkah terbaik dalam menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh. Namun pada beberapa kondisi, konsumsi suplemen peningkat imunitas tubuh mungkin diperlukan. Disarankan untuk konsultasi ke dokter sebelum mengonsumsinya, terutama jika Anda memiliki kondisi medis tertentu. Dokter dapat merekomendasikan suplemen sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, dengan dosis yang tepat.

Baca Juga 
sej-arah334.blogspot.com


Virus Corona


Pengertian Corona virus
Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Banyak orang terinfeksi virus ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya.
Namun, beberapa jenis virus corona juga bisa menimbulkan penyakit yang lebih serius, seperti:
SARS yang muncul pada November 2002 di Tiongkok, menyebar ke beberapa negara lain. Mulai dari Hongkong, Vietnam, Singapura, Indonesia, Malaysia, Inggris, Italia, Swedia, Swiss, Rusia, hingga Amerika Serikat. Epidemi SARS yang berakhir hingga pertengahan 2003 itu menjangkiti 8.098 orang di berbagai negara. Setidaknya 774 orang mesti kehilangan nyawa akibat penyakit infeksi saluran pernapasan berat tersebut. 
Sampai saat ini terdapat tujuh coronavirus (HCoVs) yang telah diidentifikasi, yaitu:
  • HCoV-229E.
  • HCoV-OC43.
  • HCoV-NL63.
  • HCoV-HKU1.
  • SARS-COV (yang menyebabkan sindrom pernapasan akut).
  • MERS-COV (sindrom pernapasan Timur Tengah).
  • 2019-nCoV atau dikenal juga dengan Novel Coronavirus (menyebabkan wabah pneumonia di kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019, dan menyebar ke negara lainnya hingga Januari 2020. 
Faktor Risiko Infeksi Coronavirus  
Siapa pun dapat terinfeksi virus corona. Akan tetapi, bayi dan anak kecil, serta orang dengan kekebalan tubuh yang lemah lebih rentan terhadap serangan virus ini. Selain itu, kondisi musim juga mungkin berpengaruh. Contohnya, di Amerika Serikat, infeksi virus corona lebih umum terjadi pada musim gugur dan musim dingin. 
Di samping itu, seseorang yang tinggal atau berkunjung ke daerah atau negara yang rawan virus corona, juga berisiko terserang penyakit ini. Misalnya, berkunjung ke Tiongkok, khususnya kota Wuhan, yang pernah menjadi wabah 2019-nCoV pada Desember 2019 hingga Januari 2020. 

Penyebab Infeksi Coronavirus  
Infeksi coronavirus disebabkan oleh virus corona itu sendiri. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virus lain pada umumnya, seperti: 
  • Percikan air liur pengidap (bantuk dan bersin).
  • Menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi.
  • Menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona
  • Tinja atau feses (jarang terjadi)
Khusus untuk, novel coronavirus atau 2019-nCoV, masa inkubasi belum diketahui secara pasti. Namun, rata-rata gejala yang timbul setelah 2-14 hari setelah virus pertama masuk ke dalam tubuh. Di samping itu, metode transmisi 2019-nCoV juga belum diketahui dengan pasti. Awalnya, virus corona jenis 2019-nCoV diduga bersumber dari hewan. Virus corona  2019-nCoV merupakan virus yang beredar pada beberapa hewan, termasuk unta, kucing, dan kelelawar. 
Sebenarnya virus ini jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia dan menyebar ke individu lainnya. Namun, kasus di Tiongkok kini menjadi bukti nyata kalau virus ini bisa menyebar dari hewan ke manusia. Bahkan, kini penularannya bisa dari manusia ke manusia. 

 Gejala Infeksi Coronavirus  
Virus corona bisa menimbulkan beragam gejala pada pengidapnya. Gejala yang muncul ini bergantung pada jenis virus corona yang menyerang, dan seberapa serius infeksi yang terjadi. Berikut beberapa gejala virus corona yang terbilang ringan:
  • Hidung beringus.
  • Sakit kepala.
  • Batuk.
  • Sakit tenggorokan.
  • Demam.
  • Merasa tidak enak badan.
Hal yang perlu ditegaskan, beberapa virus corona dapat menyebabkan gejala yang parah. Infeksinya dapat berubah menjadi bronkitis dan pneumonia (disebabkan oleh 2019-nCoV) , yang menyebabkan gejala seperti:
  • Demam yang mungkin cukup tinggi bila pasien mengidap pneumonia.
  • Batuk dengan lendir.
  • Sesak napas.
  • Nyeri dada atau sesak saat bernapas dan batuk.
Infeksi bisa semakin parah bila menyerang kelompok individu tertentu. Contohnya orang dengan penyakit jantung atau paru-paru, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, bayi, dan lansia. 

Diagnosis Infeksi Coronavirus  
Untuk mendiagnosis infeksi virus corona, dokter akan mengawali dengan anamnesis atau wawancara medis. Di sini dokter akan menanyakan seputar gejala atau keluhan yang dialami pasien. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah untuk membantu menegakkan diagnosis.
Dokter mungkin juga akan melakukan tes dahak, mengambil sampel dari tenggorokan, atau spesimen pernapasan lainnya.  Untuk kasus yang diduga infeksi novel coronavirus, dokter akan melakukan swab tenggorokan, DPL, fungsi hepar, fungsi ginjal, dan PCT/CRP.

Komplikasi Infeksi Coronavirus  
Virus corona yang menyebabkan penyakit SARS bisa menimbulkan komplikasi pneumonia, dan masalah pernapasan parah lainnya bila tak ditangani dengan cepat dan tepat. Selain itu, SARS juga bisa menyebabkan kegagalan pernapasan, gagal jantung, hati, dan kematian.
Hampir sama dengan SARS, novel coronavirus juga bisa menimbulkan komplikasi yang serius. Infeksi virus ini bisa menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian. 

Pengobatan Infeksi Coronavirus  
Tak ada perawatan khusus untuk mengatasi infeksi virus corona. Umumnya pengidap akan pulih dengan sendirinya. Namun, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala infeksi virus corona. Contohnya:
  • Minum obat yang dijual bebas untuk mengurangi rasa sakit, demam, dan batuk. Namun, jangan berikan aspirin pada anak-anak. Selain itu, jangan berikan obat batuk pada anak di bawah empat tahun.
  • Gunakan pelembap ruangan atau mandi air panas untuk membantu meredakan sakit tenggorokan dan batuk.
  • Perbanyak istirahat.
  • Perbanyak asupan cairan tubuh.
  • Jika merasa khawatir dengan gejala yang dialami, segeralah hubungi penyedia layanan kesehatan terdekat.
Khusus untuk virus corona yang menyebabkan penyakit serius, seperti SARS, MERS, atau infeksi novel coronavirus, penanganannya akan disesuaikan dengan penyakit yang diidap dan kondisi pasien. 
Bila pasien mengidap infeksi novel coronavirus, dokter akan merujuk ke RS Rujukan yang telah ditunjuk oleh Dinkes (Dinas Kesehatan) setempat. Bila tidak bisa dirujuk karena beberapa alasan, dokter akan melakukan:
  • Isolasi
  • Serial foto toraks sesuai indikasi.
  • Terapi simptomatik.
  • Terapi cairan.
  • Ventilator mekanik (bila gagal napas)
  • Bila ada disertai infeksi bakteri, dapat diberikan antibiotik.
 Pencegahan Infeksi Coronavirus 
Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus corona. Namun, setidaknya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjangkit virus ini. Berikut upaya yang bisa dilakukan: 
  • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik hingga bersih.
  • Hindari menyentuh wajah, hidung, atau mulut saat tangan dalam keadaan kotor atau belum dicuci.
  • Hindari kontak langsung atau berdekatan dengan orang yang sakit.
  • Hindari menyentuh hewan atau unggas liar. 
  • Membersihkan dan mensterilkan permukaan benda yang sering digunakan. 
  • Tutup hidung dan mulut ketika bersin atau batuk dengan tisu. Kemudian, buanglah tisu dan cuci tangan hingga bersih. 
  • Jangan keluar rumah dalam keadaan sakit.
  • Kenakan masker dan segera berobat ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala penyakit saluran napas. 

Kapan Harus ke Dokter?
Jika gejala-gejala infeksi virus corona tak kunjung membaik dalam hitungan hari, atau gejalanya semakin berkembang, segeralah temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat, bisa meningkatkan peluang kesembuhan infeksi virus tersebut.